Kapan Anak Boleh Memakai Gadget?

Bolehkah anak memakai gadget? (Sumber : Freepik)

“Mah mana handphoneku, tadi sebelum sekolah ada di kamar, kenapa kini tidak ada? Aku mau maen game nih Mah,” rengek Ayu pada mamanya sepulangnya dari sekolah.

“Ayu, untuk hari ini stop handphone dulu ya. Besok kau mau ujian, jadi sementara waktu tidak maen game dulu, fokus berguru hingga ujian selesai,” terperinci Mama sambil melihat lisan Ayu.

Ayu pun terdiam, cemberut, murka dan tidak terima, gawai kesayangannya disita dengan alasan akan ujian.

Sekilas dongeng yang dialami para orang renta ketika anak-anaknya sudah mengenal benda canggih dan arif itu. Ya, smartphone. Kehadirannya tentu tidak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Semua aplikasinya menciptakan pengguna menjadi termudahkan dan menjadi praktis mendapat apa yang diinginkan. Hanya dengan ketikan jari, yang jauh jadi dekat dan kesulitan menjadi praktis dilakukan. Pokoknya semua menjadi serba praktis dan cepat terselesaikan.

Manfaat gadget
Perkembangan dunia teknologi semakin hari semakin bertambah pesat dan terus maju dengan terobosan baru. Awalnya handphone difungsikan untuk memudahkan komunikasi baik melalui telephon atau kirim pesan. Namun, kini kemajuannya sudah sangat jauh berkembang. Handphone bermetamorfosis smartphone dan sesuai namanya, benda arif ini bisa mempermudah segala sesuatu.
  • Kecanggihan gadget memang menawarkan manfaat bagi penggunanya, yaitu :
  • Memudahkan menggali warta yang dibutuhkan.
  • Melancarkan komunikasi dan bisa menjaga silaturahmi.
  • Mampu memperluas pertemanan dan jaringan.
  • Memberikan kemudahan dalam menjalani bisnis.

Kapan anak boleh main gadget (Sumber : Freepik)
 Kapan anak boleh memakai gadget
Gadget tidak hanya diminati oleh kalangan tertentu saja, tetapi oleh semua golongan usia. Mulai dari bawah umur hingga orang tua. Bahkan rasanya sehari tanpa gadget ada yang terasa kurang. Ya, kehadiran gadget dalam kehidupan sehari-hari begitu penting, sehingga tak terpisahkan.

Inilah salah satu pengaruh yang terjadi dari kehadiran gadget. Keberadaannya yang tidak bisa dilepaskan menciptakan orang tuapun menawarkan kemudahan ini kepada anak semenjak kecil. Alih-alih semoga anak tidak gaptek dengan kemajuan teknologi ketika ini. Namun, dampaknya justru menciptakan anak menjadi kecanduan. Sedangkan bagi anak yang melihat sahabat dan lingkungan bersahabat dengan gadget menciptakan mereka tidak mau ketinggalan juga.  
Pakar parenting dan andal teknologi setuju dengan apa yang disampaikan Bill Gates. Tenplay memuat wawancara yang dilakukan terhadap Bill Gates, bos komputer ini, yang menegaskan bahwa bawah umur seharusnya TIDAK diperbolehkan mempunyai gadget sebelum usianya mencapai 14 tahun.

Dampak mengenalkan gadget  terlalu dini
Anak-anak merupakan generasi penerus bangsa yang memang membutuhkan banyak warta untuk mendukung kemampuan belajarnya setiap hari. Manfaat ini tentunya sesuai kalau gadget diberikan untuk usia yang disarankan Bill Gates tersebut. Namun, umumnya alasan utama orang renta menawarkan kemudahan ini yakni untuk menjaga komunikasi ketika anak sekolah, sehingga orang renta sanggup selalu memantau dimana dan kapan anak pulang atau dijemput.
Penggunaan gadget (Sumber : Freepik)

Mengenalkan gadget semenjak dini, bisa di telaah kembali kemanfaatannya, alasannya sesudah dikaji ternyata menawarkan pengaruh yang kurang diinginkan untuk masa tumbuh kembangnya, yaitu :
1. Anak kurang mau berinteraksi dengan dunianya.
Dunia anak yakni dunia yang penuh keceriaan, canda tawa dan berusaha terus mengeksplorasi apa yang ada di sekitarnya. Bermain bersama teman-temannya membuatnya sanggup berkomunikasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sehingga perkembangannya terus tumbuh dengan baik. Namun, apa yang terjadi sesudah anak mengenal gadget? Keasyikannya bermain dengan teman-teman seusianya menjadi berkurang. Dia lebih senang bermain di rumah bersama gadget kesayangannya kapanpun beliau inginkan.  

2. Anak lebih senang menyendiri dan menikmati keasyikannya dengan gadget.
Kecintaannya dengan gadget menciptakan anak menjadi penyendiri. Di kamarnya atau diruangan rumah yang beliau sukai. Bersama benda kesukaannya juga bisa menciptakan beliau lupa akan apa yang harus dilakukan.

3. Tidak ada kontrol akan apa yang dilihatnya.
Apakah selaku orang renta kita bisa melaksanakan pengawasan sepenuhnya pada anak? Tentu tidak, alasannya orang renta pun mempunyai kegiatan yang tidak bisa dihindari. Bersama gadget, anak bisa melaksanakan apapun dan melihat apa yang diinginkan.

4. Anak menjadi kecanduan gadget.
Apakah gadget bisa menciptakan anak menjadi kecanduan? Tentu bisa dan ciri-cirinya antara lain :
  • Tidak bisa dijauhkan dari benda kesayangannya.
  • Sepanjang hari menikmati asyiknya bersama gadget.
  • Hilangnya ketertarikan dengan benda lainnya selain gadget.
  • Anak menjadi lebih praktis marah, bahkan berani membantah ketika dijauhkan dari gadget.

Anak tidak mau dipisahkan dari gadget kesayangannya (Sumber : Freepik)
5. Anak menjadi lebih agresif, praktis marah, bahkan membantah.
 Kedekatan anak dengan gadget, akan membuatnya ingin mengikuti apa yang sudah dilihatnya. Tidak hanya dilakukan ketika di dalam kamar atau dirumah saja, anak juga akan memperlihatkan pada teman-temannya.

6. Terpapar radiasi
Dikutip dari Kumparan.com, California Department of Public Health (Departemen Kesehatan Masyarakat California) pada Desember 2017, menawarkan peringatan wacana ancaman dari radiasi ponsel. Gadget disinyalir memancarkan radiasi elektromagnetik. Maka pihak departemen menghimbau kepada masyarakat untuk menjaga jarak dengan gadgetnya.


Epilog
Anak merupakan amanah yang Allah titipkan semoga nantinya bisa menjadi anak yang diharapkan. Sebagai orang tua, kehadiran anak tidak hanya menawarkan kebahagian, tetapi juga menjadi generasi penerus keluarga yang diperlukan bisa membawa nama baik keluarga. Harapan dan harapan orang renta ini terus diusahakan dengan menawarkan pendidikan sebaik-baiknya, menjaga dan merawatnya sebaik mungkin dan memenuhi semua kebutuhannya.

Namun, kemajuan teknologi menciptakan orang renta menjadi lupa akan hakikat ini. Ingin semoga anaknya tidak kalah dengan anak lainnya maka orang renta menawarkan banyak sekali kemudahan yang canggih dan keren untuk mendukung kecerdasan anak. Lalu apa yang terjadi? Anak menjadi menjauh, lebih suka menyendiri, menikmati kebersamaan dan keasyikannya dengan gadget canggihnya.

Waktu kebersamaan dengan orang renta menjadi berkurang alasannya beliau tidak mau dijauhkan sama sekali dari benda itu. Reaksinya bisa dijauhkan, beliau akan marah, berontak bahkan hingga berkata dengan tidak baik.  Sedih rasanya. Bukan ini yang bunda dan ayah inginkan Nak.

Apakah semuanya bisa di putar ulang kembali? Apakah kebersamaan yang sebelumnya terjalin bisa terus terjaga hingga kau besar nanti, tanpa ada penghalang benda itu? Bunda dan ayah minta maaf kalau keliru dalam menawarkan kemudahan itu kepadamu. Tujuan kami bahwasanya semoga bawah umur bisa sama dengan anak lainnya, tetapi ternyata, kami lepas kontrol, justru menawarkan kebebasan yang terlalu banyak, hingga semua ini terjadi. Semoga ini bisa diperbaiki dan selanjutnya tidak terulang lagi.


Semoga bermanfaat.



Sumber :
id.theasianparent.com






Post a Comment

0 Comments